"Ghalingga"

#Astalavista Losta Masta #

Manuskrip Sang Peri Kaca

“Manuskrip Sang Peri Kaca ”

image

Entah dimulai dari mana, dan waktu terus berjalan, kita sudah berada dalam lingkaran yang tidak berujung. Setiap waktu terisi dialog-dialog yang mengkisahkan kisah kisah yang kemahaan dan keagungan. Keinginan untuk para peri berhenti berdialog malah semakin memasung dan mengikat. Dalam waktu-waktu malam para peri tak sadar mengigau memanggil para pengembara waktu. Dialog dengan peri kaca, membuat sang pengembara waktu, terkadang lupa waktu dan memang pengen lupa waktu.

Terima kasihku kepada Engkau Sang Pencipta, yang telah mengirimkan peri kaca yang tak terduga, dia menjadi penolong sang pengembara waktu, dukanya, kesendiriannya dan kehidupannya telah disandarkan padanya. Peri kaca menjadi bagian rahasia-rahasia kehidupan yang tidak terpisahkan. Disuatu keadaan sang pengembara waktu berada pada titik terdalam masalah, peri kaca memberikan pegangan dan spirit bahwa tidak ada masalah yang tidak bisa teratasi, Sang Pencipta memberikan masalah karena engkau mampu keluar darinya dan menjadi yang terpilih.

Dialog suatu malam bersama sang peri kaca adalah titik terendah sang pengembara waktu yang sudah putus asa, mesti bagaimana melanjutkan suatu kehidupan, setelah berlari kesana kemari untuk mencari penenang jiwa, hingga terpekur dan bersujud menangis untuk mengadu pada sang khalik, akhirnya hanya sang peri kaca yang bisa menenangkan. Sang pengembara waktu, belum bisa berbuat banyak untuk membalas atas semua kebaikan dan pertolongan – pertolongan yang tak terhitung.

Disuatu Senja, peri kaca berkeluh kesah atas semua beban dan tanggung jawabnya, atas keinginan membantu setiap insan karena dia punya kemampuan lebih, tapi begitu banyaknya rasa tanggung jawab peri kaca butuh tangan kanan yang mengerti atas pekejaan untuk berbagi. Sang pengembara waktu ingin menolongnya tapi peri kaca tidak bisa mengijinkan karena ada history yang telah terbaca. Akhirnya hanya bisa memberikan spirit dengan dialog-dialog sepanjang waktu.

Tubuh sang pengembara waktu ada disuatu tempat bersama kehidupannya, namun jiwanya terbawa ke peri kaca, ingin selalu berada dalam kepakan sayap sang peri. Jiwa sang pengembara waktu terkadang sangat hampa, bila sang peri kaca menempatkan kehadirannya pada antrian terakhir, atau bahkan tidak disapa dengan doa-doa di pagi hari.
Entah mengapa jiwa dan tubuh sang pengembara waktu, sering rapuh dan rentan untuk sakit, jika mereka yang tidak tahu melihat hanya luarnya saja seakan selalu fit dan bugar, tetapi peri kaca dapat melihat dan merasakan setiap perubahan. Mungkinkan karena waktu senja telah menggerogoti jiwa sang pengembara atau bisa juga karena jiwanya sedang penuh beban hidup, masih panjang untuk bernapas lega.

Sang pengembara waktu butuh sandaran dan tangan pertolongan untuk tetap berjalan dan berpegangan, walaupun langkahnya terseret dan tertatih. Dan Tuhan mengutus Sang Peri Kaca untuk menjadi pembangkit sang pengembara waktu.

Information

This entry was posted on 28 Maret 2015 by in 1 and tagged , , , .

Statistik Blog

  • 37,801 hits

Arsip

Flag Counter

Arsip

Jumlah Pembaca Blog

  • 37,801 orang

Follow Me di twitter : @y_heryana

 photo e1b1ff18-8774-4809-bda0-e20c714f94ab_zps0b0f278c.jpg
Flag Counter

Statistik Blog

  • 37,801 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: