Cerita Tentang Superman …eh… Ektra Peran Karyawan (Organizational Citizenship Behavior )

ANTARA DIKAGUMI DAN BIKIN BOS BILANG ;  IIIIHHHH………..TAKUT ?

 AWAL CERITA

Konon cerita ini dimulai dari hasil ngobrol di cape-cape serta hasil jalan-jalan silaturahmi di beberapa tempat legal maupun ilegal, dan karena kejelian dari siempunya cerita dengan teropong hati dan pikiran yang jernih sebening air AQUA ditemukanlah banyaknya karyawan-karyawan yang mirip SUPERMAN eh… ektra peran, tetapi terkadang keberadaan mereka seperti hidup dalam 2 sisi koin mata uang, DIBUTUHKAN DAN DITAKUTI, mengapa ?, Karyawan seperti itu bisa menjadi solusi dikala semua unit kerja macet dan pimpinan organisasi ketakutan mengambil keputusan yang tepat, karena dia sulit memilih diantara TIM SUKSESNYA yang paling pinter atau paling keblinger untuk mengerjakan tugas Maha Penting Menyelematkan Organisasi, atau yang paling sujud ruku dan basah mencium tangan. Karyawan ektra peran, akan mengambil resiko sendiri untuk menyelamatkan organisasi, karena dia memang sudah lama diorganisasi tersebut dan tahu betul memposisikan diri mana sikap dan kebutuhan yang harus diambil pada saat kritis dan pada saat semua ambil selamat sendiri. Karyawan ektra peran selalu berada di jalur yang tidak bisa diprediksi. Fleksible dan penuh rahasia. Mereka biasanya dimanfaatkan oleh para pemimpin ambisius tapi tidak tahu apa dan bagaimana untuk memimpin dan memanajemen organisasi.

Pada kondisi organisasi yang sudah kondusif, para karyawan ektra peran akan ditakuti, disegani oleh para pemimpin organisasi karena mereka adalah yang paling tahu kondisi organisasi serta kualitas pimpinannya, hampir semua sisi sektor unit kerja dia tahu dan ahli, dalam hal ini para karyawan ektra peran benar-benar menjadi pengancam yang paling menakutkan bagi karyawan lain yang direkrut oleh sang pemimpin organisasi karena sebagai bagian “SESUATU”, tetapi tidak mampu apa – apa yang penting asal bicara, pandai mengadu, pandai ambil hati. Posisi Karyawan ektra peran akan tetap pada posisi dimana dia berada sampai kapanpun bahkan sampai organisasi itu suatu saat bergejolak lagi. Peran – peran penting karyawan ektra peran pada masa lalu, lambat laun akan dikorupsi dikurangi (mungkin dicab……. Juga ya ), bahkan akan disalahkan dalam forum-forum yang penting oleh pemimpin organisasi yang tidak tahu berterima kasih, pemimpin yang myopi, pemimpin yang miscomunication with  the fact n Reality. Keberhasilan kerja Karyawan ektra peran akan dijual atau diberikan kepada karyawan lain (TIM SESUATU) sebagai keberhasilannya dan merupakan bagian dari promosi jabatan.

PERILAKU SUPERMAN (EKTRA PERAN) MENURUT CELOTEH ORANG PINTAR

Peran penting individu dalam sebuah organisasi dapat di identifikasi sebagai tiga perilaku pekerja yang di paparkan oleh Katz (1964) dikutip Konovsky dan Pugh (1994, dalam Utomo, 2002) di jelaskan bahwa: “3 (tiga) kategori perilaku pekerja, yaitu (i) individu terikat dan berada dalam suatu organisasi, dan (ii) harus menyelesaikan peran khusus dalam suatu pekerjaan,serta (iii) harus terikat pada aktivitas yang inovatif dan spontan melebihi persepsi perannya”. Kategori pekerja yang ketiga sering disebut dengan perilaku ekstra peran dalam organisasi. Perilaku extra-role ini disebut juga dengan Organizational Citizenship Behavior (OCB). Menurut Utomo (2002) dalam Kaihatu dan Rini (2007) perilaku kerja the extra role sering diistilahkan sebagai “organizational citizenship behavior” atau sering juga disebut prosocial behavior. Jadi dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi dalam organsiasi, individu juga tidak jarang melakukan pekerjaan atau tugas diluar peran yang diharuskan untuk dikerjakan. Perilaku seperti inilah yang disebut dengan perilaku ekstra peran. Aldag dan Rescke (1997) dalam Kaihatu dan Rini (2007), mengartikan perilaku ekstra peran (organizational citizenship behavior) sebagai berikut:“Perilaku ekstra peran diartikan sebagai kontribusi seorang individu dalam bekerja, dimana melebihi persyaratan yang ditetapkan dan penghargaan atas keberhasilan kerja yang dijanjikan. Kontribusi tersebut seperti perilaku menolong sesama yang lain, kerelaan melakukan pekerjaan tambahan, menjunjung prosedur dan aturan kerja tanpa menghiraukan permasalahan pribadi, merupakan satu bentuk dari prosocial behaviour, sebagai perilaku sosial yang positif, konstruktif, dan suka memberi pertolongan”.

Menurut Organ 1988, dalam Tschannen-Moran 2003 yang dikutip Kaihatu dan Rini (2007) , perilaku ekstra peran diimplementasikan dalam bentuk “perilaku altruism, conscientiousness, sportsmanship, courtesy, dan civic virtue”. Sifat mementingkan kepentingan orang lain,seperti memberikan pertolongan pada kawan sekerja yang baru, dan menyediakan waktu untuk orang lain (Altruism) adalah ditunjukkan secara langsung pada individu-individu lainnya, akan tetapi kontribusi terhadap efisiensi didasarkan pada peningkatan kinerja secara individual.  Sifat kehati-hatian, seperti efisiensi menggunakan waktu, tingkat kehadiran tinggi (Conscientiousness) adalah kontribusi terhadap efisiensi baik berdasarkan individu maupun kelompok. Sifat sportif dan positif, seperti menghindari complain dan keluhan yang picik (Sportsmanship) adalah dengan memaksimalkan total jumlah waktu yang dipergunakan pada usaha-usaha yang konstruktif dalam organisasi. Sifat sopan dan taat, seperti melalui surat peringatan, atau pemberitahuan sebelumnya, dan meneruskan informasi dengan tepat (Courtesy) adalah dengan membantu mencegah timbulnya masalah dan memaksimalkan penggunaan waktu.  Sifat bijaksana atau keanggotaan yang baik, melakukan fungsi-fungsi sekalipun tidak diwajibkan untuk membantu memberikan kesan baik bagi organisasi (Civic Virtue) adalah memberikan pelayanan yang diperlukan bagi kepentingan organisasi. Dasar kepribadian untuk mewujudkan perilaku ekstra peran merefleksikan ciri karyawan yang kooperatif, suka menolong, perhatian, dan bersungguh–sungguh. Dasar sikap mengidentifikasikan bahwa karyawan terlibat dalam perilaku ekstra peran untuk membalas tindakan organisasi. Dimensi kepuasan kerja, dan komitmen organisasi berhubungan dengan Organizational Citizenship Behavior (Luthans, 2006 : 251) dalam Rini dan Kaihatu (2007).

AKHIR CERITA

Karyawan ektra peran adalah mereka memang serba bisa dan mau bekerja karena selalu memandang positif dan mencintai tugasnya bukan type ABU-ABU yang kini sedang marak dan masih dipercayakan. Keberadaan mereka selalu ada, baik di organisasi legal seperti  pemerintah, pendidikan, swasta maupun organisasi para maling n perampok. Type karyawan ektra peran, tidak pernah menjual, membicarakan data-data penting perusahaan diluar organisasi apalagi dengan orang luar yang tidak berkepentingan    apalagi dalam rapat-rapat rahasia yang menjelekan organisasi tempat dia mencari makan, berada sangat lama dalam organisasi tersebut terkadang dalam posisi yang sama tidak naik – naik bahkan sering diturunkan, kreatif, inovatif, sedikit humoris, disukai dan dikenal oleh semua karyawan lainnya, karena rasa sosial ( not money oriented ) dan tidak pernah mengambil jarak .  Pada kondisi organisasi sudah aman dan mapan dengan alasan perbaikan sistem manajemen (padahal manajemen berjalan ditempat) mereka paling sering dicurigai, ditakuti, disegani oleh para pemimpin organisasi yang myiopi dan pobia jabatan.

CLOSSING

The stroy tidak berhubungan dengan apapun atau ” SESUATU“, ini hanya bagian dari loncatan pikiran  si empunya yang ingin berceloteh dan berbagi supaya tidak beku membatu dan berpikir negatif melulu…., jika ada yang bagus harap di applussss, jika ada yang kurang atau salah harap di maafkan dan di hapuss, jika ada yang kena lempar bola……tangkap saja, biar tidak masuk gol……., lalu kita sama-sama nonton bareng LIGA CHAMPION……

THANK  U

Beberapa coretan di atas merupakan hasil dari kontribusi dan sumbangan dari kawan, teman, sahabat, kaum terpinggirkan, kelompok tidak se-ide yang bersebrangan, dan para orang pintar yang sudah meneliti. Terima kasih dan semoga bisa memberi manfaat.